Ratusan Pelajar Lihat Pelepasliaran Petir


JAKARTA – Lebih dari 1.000 orang pengunjung memadati acara yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di Candi Bentar, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pekan lalu. Diperkirakan, dari 1.000 orang yang hadir, 500 diantaranya adalah masyarakat umum dan sisanya siswa SMA se-Jabodetabek.Dari sekian banyak stan yang ikut serta dalam acara tersebut, stan yang paling banyak didatangi pengunjung adalah stan milik Artha Graha Peduli. Stan milik AGP tersebut didatangi banyak pengunjung karena memamerkan kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) mereka
yang terkait dengan konservasi harimau di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) serta perawatan dan penanaman bakau oleh Forum Peduli Mangrove Bali, di Taman Hutan Raya I Gusti Ngurah Rai.Menurut Yusrini, siswi SMA di Depok yang datang ke acara tersebut, yang membuat mereka tertarik adalah sosok Petir, anak harimau sumatera yang lahir di TWNC dan baru dilepasliarkan kembali ke habitatnya pada 3 Maret lalu. “Jujur saja, saya sangat senang bisa melihat proses pelepasliaran Petir ke habitatnya saat itu,” ujarnya. Pada kesempatan itu Yusrini juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama Petir.Seperti diketahui, TWNC sudah melakukan pelepasliaran harimau sumatera yang berhasil dikembangbiakkannya sejak 22 Juli 2008. Pada tahun itu, yang dilepasliarkan dua yakni Agam dan Pangeran. Selanjutnya pada 22 Januari 2010, kembali dilepasliarkan dua harimau yang diberi nama Panti dan Buyung. Sedangkan yang terakhir dilepasliarkan adalah Panti dan Petir pada 3 Maret 2015 lalu. Kini, masih ada tujuh harimau sumatera yang sedang menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi satwa TWNC sebelum akhirnya dilepasliarkan.

“Harapan kami dari pameran ini semakin banyak masyarakat dan pengusaha bekerja sama dengan TWNC untuk mendukung program pelepasliaran harimau,” kata Hanna Lilies, Ketua Panitia Pameran dari AGP.Kearifan lokal
Acara Ruwatan Negeri bertemakan “Kearifan Lokal: Budaya Menjaga Lingkungan”. Acara diisi dengan pameran Taman Nasional Unggulan dan pameran lingkungan dari partisipasi pendukungnya. Dalam acara tersebut para pelajar, guru, dan masyarakat luas diundang. Tujuannya agar mereka mengetahui adanya kekayaan hutan dan lingkungan yang dimiliki negeri ini.

Acara pokok Ruwatan Negeri berlangsung sore hari yang secara formal dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya dan pemberian penghargaanb peduli lingkungan ke sejumlah pihak.

Ritus Ruwatan Negeri diselingi dengan pemutaran video, doa, dan testimoni. Sebagaimana lazimnya upacara ruwatan dirangkai dengan pertunjukan wayang kulit nyaris semalam suntuk dengan menampilkan Ki Dalang Sukadi Mbendol dengan lakon Semar Mantu.

Sumber